Selasa, 06 Desember 2011

Naina : usaha hasil kebun,anak bisa sarjana

Mama Naina Tabuni, sekarang umurnya 49 tahun. Dia berasal dari daerah Tagime Wamena Barat. Saat berumur 13 tahun, dia menikah dengan Yenis Yikwa di Wamena Barat. Naina mempunyai empat orang anak dari hasil pernikahannya, yang pertama bernama Jacklyn Jikwa yang saat ini sudah mendapat gelar sarjana  di Universitas Sains dan Teknologi Jayapura (USTJ) dalam bidang Ilmu Pemerintahan. Kedua , Fransina Yikwa yang sudah selesai menempuh pendidikan di SMU, namun belum melanjutkan kuliah. Ketiga, Yeremias Yikwa yang saat ini masih duduk di bangku SMU kelas 2, dan yang terakhir Jerlina Yikwa  masih menempuh pendidikan di bangku SMP kelas 1. Naina mempunyai dua orang cucu yang bernama Evod Owen Gimendek Togodly saat ini berumur 4 tahun dan Laudikia Eren Togodly berumur 2 tahun, dari hasil pernikahan anak perempuannya yang pertama. Masa pendidikannya, terakhir hanya sampai kelas 3 tingkat sekolah dasar saja. 

Pada tahun 1984, saat jacklyn berusia 1 bulan, suaminya ke Jayapura dan hidup terpisah dari mereka. Naina memutuskan untuk mencari biaya kebutuhan hidup di Daerah Wamena Kota, karena dia harus berjuang untuk merawat anaknya sendiri. Pada akhirnya dia juga melakukan perjalanan ke Jayapura pada tahun 1988 dan membawa Jacklyn yang saat itu berusia 4 tahun. Untuk memenuhi kebutuhan makan dan biaya sekolah anak pertamanya, ia berusaha menjual hasil kebun. Pertama kali, dia memulai usahanya di Pasar Ampera dalam Jayapura. Dengan pengetahuan menghitung yang kurang, Naina melakukan cara yang sederhana untuk menghitung pendapatannya tiap hari.  Misalkan dia membeli keladi dan petatas dengan harga Rp. 80.000/karung di Pasar Youtefa. Kalau pendapatannya 150.000/hari, dia perkirakan keuntungan yang didapatkan adalah 70.000/hari. Dengan penghasilan yang rendah dia berusaha untuk membiayai kebutuhan sekolah anaknya.

Tahun 2002, Naina dan mama – mama lainnya harus berhadapan dengan trantib kota Jayapura. ‘’kami yang jualan, disemprot air pemadam kebakaran, banyak polisi dan TNI yang angkat kami punya jualan dan meminta kami untuk pindah,’’ ujarnya.  Selama berjualan di Pasar Ampera, Naina dan mama – mama pedagang asli Papua yang lain mengalami penggusuran saat pasar Ampera dalam dan luar ditutup oleh Pemerintah Walikota Jayapura. ‘’Kami dipindahkan ke ruko Pasifik Jayapura saat Pasar Youtefa di Kotaraja dibangun oleh pemeritah Walikota pada tahun 2004’’ ujar Naina. Saat pasar Youtefa sudah dibangun, mama – mama yang jualan di ruko di Paksa pindah oleh Trantib kota Jayapura ke Pasar Youtefa. Dengan keluarnya surat Instruksi Walikota No.1 tahun 2004 tentang penertiban dan penutupan pasar Inpres Abepura dan tempat usaha sementara pedagang kaki lima di Lokasi Reklamasi Jayapura Pasifik Permai.  ‘’mama – mama tidak mau jualan di Pasar Youtefa karena sudah dikuasai oleh pendatang yang banyak mengambil tempat disana dan jaraknya yang jauh antara rumah dan tempat jualan,’’ ujarnya.

Naina dan mama – mama tetap berjualan di depan Gelael. Naina juga terlibat dengan front Solidaritas mama – mama pedagang Asli Papua (SOLPAP), yang dibentuk pada 25 Januari 2007. Solpap adalah tim advokasi yang terdiri dari LSM, Tokoh Agama , dan organ – organ gerakan pemuda serta aktivis mahasiswa di Jayapura yang melakukan pendampingan terhadap mama – mama untuk akses kepada pemerintah Provinsi dan Walikota dalam memperjuangkan pasar khusus orang asli Papua.  

Pekerjaan suaminya selama di Jayapura adalah peternak Babi, ini usaha sampingan yang dijalankan oleh keluarga agar dapat biaya tambahan untuk kebutuhan ekonomi keluarga. Dengan menjual hasil ternak, keluarga bisa membangun rumah sendiri secara bertahap. Pertama kali menjalankan usaha ternak babi, modal awal yang dibutuhkan adalah Rp.500.000 untuk membeli anak babi. Dalam kehidupan sehari – hari, setiap pukul 05.00 pagi, aktivitasnya ke kebun untuk memetik hasil  yang ditanam, seperti;  pisang, nangka, keladi, dan petatas agar bisa dijual di pasar. Kalau belum panen, dia memilih untuk membeli di pasar Youtefa.

Saat Jacklyn tamat SMU, dia berusaha untuk tetap menjadi tulang punggung dari keluarga agar anak perempuannya bisa melanjutkan ke Perguruan Tinggi. Dengan biaya kuliah, Rp.1.500.000/Semester dan biaya transportasi Rp. 20.000/hari, dia berusaha untuk menyimpan hasil penjualan tiap hari dirumah, karena selama menjalankan usaha dia tidak pernah menyimpan uang di Bank. Dengan perjuangannya selama ini, dia bisa melihatnya anaknya wisuda pada tanggal 12 Maret tahun ini. Harapan ke depan untuk anaknya agar dapat membantu orang tua membiayai adik – adiknya sekolah kemudian mempraktekkan ilmu yang telah didapatkan di kampus untuk membantu masyarakat Papua yang paling terutama membantu kelompok mama – mama pedagang asli Papua.     

Selama menjalankan usaha ekonomi yang sederhana, dia tidak pernah mengikuti koperasi yang dapat memberikan pinjaman modal usaha baginya. Karena bunga pinjaman yang diberikan terlalu tinggi. Saat ini dengan adanya pasar sementara yang dibangun oleh pemerintah Provinsi Papua yang diresmikan pada tanggal 20 Desember 2010, dia mempunyai harapan agar dirinya dan mama – mama yang lain mampu bersaing dengan orang non – Papua, karena adanya pasar ini adalah hasil perjuangan mama – mama yang sudah berjalan 9 tahun. Dia bangga ada juga koperasi mama – mama pedagang asli Papua (KOMMPAP) yang diberikan Gubernur Provinsi Papua saat peresmian pasar sementara. ‘’saya memiliki harapan agar koperasi ini bisa memberikan bunga yang rendah bagi mama – mama. Dengan adanya koperasi ini juga bisa memberikan pembelajaran bagaimana mengatur biaya kebutuhan rumah tangga. Karena selama saya jualan, saya tidak pernah menabung, penghasilan yang selalu didapatkan dipakai habis.’’ujarnya.

Pasar yang ada saat ini bisa menjadi salah contoh , bahwa hanya ada orang asli Papua yang berjualan di satu tempat dan mama – mama bisa menjadi pedagang yang suskes, mandiri dan akan menjadi tulang punggung ekonomi Rakyat Papua.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar