Kamis, 29 Desember 2011

Christmas Jayapura Market Mama's

spanduk natal mama - mama


Shalom....

Our best regards to all of those present here:

1. The Governor of the Province of Papua, or their representative
2. The Head of the Department of Industry, Trade, Cooperatives and Small and Medium Enterprises of the Province of Papua, or their representative
3. The municipal authorities of the City of Jayapura, or their representatives
4. Those united in Solidarity for Indigenous Papuan Traders (Solidaritas Pedagang Asli Papua, SOLPAP), or their representatives
5. The guests of local NGOs in Jayapura who continue to support the indigenous Papuan market-women’s cause 
6. Trustees, advisors and the managers of the Cooperative of Indigenous Papuan Market-women, or their representatives
7. The indigenous Papuan market-women (the ‘mama-mama’) from within and around ‘Pasar Sementara’ 
8. Street children, parking attendants and the labourers around the port, both visitors and guests of the urban poor within and around the marketplace
9. The beloved audience we have invited here today

As firm believers, we praise the Almighty God and give our thanks for it is his will that we can all be present here today to celebrate Christmas with the mama-mama. This Christmas marks the first for those indigenous Papuan traders at Pasar Sementara (Jl. Percetakan, No. 5A), which was officially opened on 20 December 2010 and has been fully operative since 7 March 2011. 

The Christmas committee was formed on 3 December 2011. Since 5 December, the market-women started to raise funds independently and by 16 December had collected Rp. 12, 957,000. The personal contribution from the market-women of Pasar Sementara and the surroundings was Rp. 9, 357,000 and contributions from related parties came to Rp. 3,600,000. Given the difficult economic situation for the market-women, donations are very limited. However, this is a month of joy that must be celebrated alongside the urban poor both in and around the market. With our shared commitment, we started to collect donations and now carry out celebrations, by the grace of Jesus Christ, the son of Christmas who came into the world as mankind’s saviour. 

The committee adopted a central theme: “A nation in darkness already sees a great light” (Isaiah Section 9: Verse 1a), and a sub-theme: In the spirit of Christmas 2011 “Papuan market-women are ready to become the light unto the world and for others”. The mama-mama will never stop fighting for a permanent market –place specially for indigenous Papuan traders until that has been attained. 

The mama-mama will continue their struggle since our rights are enshrined in the 1948 Universal Declaration of Human Rights (UNDHR) and the Convention to Eradicate all-forms of Discrimination Against Women (CEDAW) whereby the mama-mama will continue their struggle for their economic, social and cultural rights to be fulfilled as applicable by Law no. 7 of 1984 in Indonesian law. 

We can realise this if we all hold hands together and have a shared commitment to stop economic violence against Papuan women. In this respect, the mama-mama must be the light for humanity. 

Thank you, may Lord Jesus bless us all. 

As the representative of the indigenous market-women of Papua, I wish to celebrate a Happy Christmas for "25 December 2011 and Welcome the New Year on “01 January 2012".

Mama Magdalena Aninam (Head of the Christmas Committee for the Market-women of Papua)

Senin, 26 Desember 2011

Mama - mama pedagang protes pasar murah di Taman Imbi

pihak keamanaan menenangkan Mama -
Mama 

Pada 21 Desember 2011, aksi protes, 50 Mama – mama pedagang asli Papua yang berada di pasar sementara, dengan membawa kayu, berjalan kaki menuju taman imbi, keinginan mama – mama untuk memboongkar pasar murah yang sudah hampir 2 hari berlangsung, pasar murah ini dihuni oleh pedagang non – Papua yang berasal dari Koya, Distrik Muara Tami. Program ini dari Dinas Pertanian Provinsi Papua dan Dharma Wanita Kota Jayapura. Mama – mama meminta untuk tidak lagi berjualan, karena tuntutan mama – mama pada tanggal 25 November 2011, ditujukan kepada DPRP, jangan ada lagi pasar murah di kota Jayapura, selain pasar mama – mama, Jl. Percetakan.
aksi protes mama - mama pedagang asli Papua di Taman Imbi

‘’Hasil jualan kami tidak laku, karena kami juga membeli dari petani di Koya, petani yang sama, kenapa harus berjualan dekat dengan pasar mama – mama, hasil pendapatan kami menurun selama 2 hari ini, karena penjualan di sini lebih murah. Ini sudah mau natal, kenapa pemerintah juga memberikan kesempatan kepada pedagang non – Papua di dekat sini. Sudah ada 3 pasar menjelang natal, ekonomi mama – mama di pasar sementara menurun kalau seperti ini’’,ujar Jeni Madai, salah satu mama  yang protes.

Aparat Keamanaan pun datang dan mengambil beberapa kayu yang dipegang oleh mama – mama, Aparat meminta untuk tidak merusak dan membongkar jualan, karena ini termasuk tindakan melawan hukum. Merusak barang milik orang lain. Namun mama – mama tetap berteriak dan meminta untuk besok tidak ada lagi pasar murah di Taman Imbi, kalau sampai ada, kami akan bongkar dan merusak barang – barang jualan yang ada.

Setelah mama – mama menyampaikan aspirasinya, mama – mama langusng kembali ke tempat jualan di Pasar Sementara. Tindakan ini tidak seharusnya terjadi, masa ada pasar murah yang dekat dengan pasar mama – mama, ini konflik horizontal yang sengaja diciptakan oleh pemerintah. Pemerintah harus memberikan ruang untuk mama – mama berdagang di tanahnya sendiri, apalagi mau menjelang natal, ya jelas konsumen akan mencari barang yang lebih murah. Kita akan coba bangun dialog dengan Pemerintah,sehingga konflik ini tidak terulang lagi tahun depan. Tahun kemarin juga hal yang sama, mama – mama berjualan di Depan Gelael, ada pasar murah di Taman Imbi,’ ujar Robert Jitmau, Ketua Kommpap.

Minggu, 25 Desember 2011

Pelatihan Perkoperasian untuk anggota Kommpap

Pada hari Kamis, 15 Desember 2011, Mama – mama pedagang asli Papua yang merupakan anggota Koperasi mama – mama pedagang asli Papua(KOMMPAP) mengikuti pelatihan yang dilakukan oleh Dinas Perindustrian, Perdagangan,Koperasi dan Usaha Kecil Menengah(Disperindangkop). Pelatihan ini sebagai tindak lanjut program dari Gubernur Provinsi Papua tahun angggaran 2011. Pelatihan Perkoperasian ini dikhususkan bagi 120 anggota Kommpap, yang sejak tanggal 20 Desember 2010, di dirikan bersamaan dengan peresmian pasar sementara.

Pelatihan ini dibuka oleh Asisten Bidang Pembangunan dan Ekonomi setda Provinsi Papua, Drs. Elia Ibarahim Loupatty yang mewakili Gubernur Provinsi Papua pada pembukaan di Balai Pelatihan Koperasi (Balatkop) Angkasa, Jayapura. Mama – mama pedagang asli Papua adalah pekerja keras, karena mereka penentu ekonomi keluarga. Mama – mama berkontribusi dalam pertumbuhan ekonomi di Jayapura’’,ujar Elia.

Materi mengenai sejarah koperasi
Elia juga mengatakan ‘’Para pengajar harus pelan - pelan memberikan teori bagi mama – mama. Karena dari batas kemampuan, mama – mama lebih senang dengan teori mendengar dan melihat. sehingga ketika keluar dari tempat pelatihan ada manfaat. Pelatihan ini agar mama – mama lebih meningkatkan usaha, minimal pertahankan usaha, dan mengelola modal usaha yang sudah dihimpun bersama. Hasil usaha yang minim, tidak perlu rendah diri, bekerja dengan nurani dan hasil keringat sendiri, bekerja keras dengan hati yang baik demi keluarga. Saya sangat berharap mama – mama harus terus maju dan merasa bangga bagi orang asli Papua yang terlibat dalam perdagangan. Harus bangga karena tidak semua orang asli Papua bisa berdagang’’,ujarnya.  

Pelatihan ini akan berlangsung selama 4 hari, dan akan ditutup pada hari Senin, 19 Desember 2011, tujuan dari kegiatan ini untuk meningkatkan kemampuan teknis para anggota koperasi tentang pengetahuan perkoperasian dan kewirausahaan, meningkatkan motivasi dan inovasi dalam mengembangkan serta meningkatkan kualitas usaha masing – masing ‘’, ujar Drs. Kaleb Worembay, MM, Kepala Disperindangkop.

Pelatihan ini sangat baik bagi, terutama mama – mama bisa mengetahui bahwa dana Rp.600.000.000, itu adalah dana simpan – pinjam yang harus dikembalikan. Kami juga mengetahui bagaimana melakukan pinjaman ke Bank, dan harus memiliki sikap sabar dan rendah hati untuk berjualan dan bersaing’’,ujar mama Yuliana. 

Minggu, 11 Desember 2011

Memorialisasi Filep Karma pada peringatan HAM

Salah satu mama di Pasar

Beberapa foto dari tahanan Politik Papua, Filep Karma yang diberikan hukuman 15 tahun penjara oleh pemerintah Indonesia, juga tampil di kegiatan pameran foto pada peringatan hari hak asasi manusia di Pasar Mama – mama, Jayapura. Maria Tabuni, salah satu mama penjual buah memberikan komentar ‘’aduh, saya pikir Bapa ini sudah bebas, ternyata masih di penjara, coba pemerintah bebaskan dia ka?’’, ujarnya.
Salah satu pembeli yang melihat foto Filep Karma bersama ibu kandungnya
foto kampanye Amensty international USA
Foto kampanye yang dilakukan oleh Amensty International, juga tampil di pameran ini, banyak masyarakat klas bawah yang tidak mengetahui apa yang dilakukan oleh NGO International untuk pembebasan tahanan Politik Papua, Filep Karma.
Video Amensty International
Filep Karma, saat ini sudah 7 tahun di Penjara, dia menolak remisi yang diberikan oleh pemerintah Indonesia sampai saat ini. Karena menurutnya, dia tidak melakukan kesalahan apa pun atau bertindak secara kekerasan. Filep Karma, dijatuhi hukuman pada tahun 2005, dengan kasus mengangkat bendera Bintang Kejora, di lapangan Trikora, Abepura, pada tanggal 1 Desember 2004. Beberapa selebaran dari Filep Karma juga tersebar , mengenai seruan penolakan bagi rakyat Papua untuk menolak pemilihan Gubernur dan wakil Gubernur Papua tahun depan. Satu point seruan yang berhubungan dengan mama – mama adalah, selama diberikan dana otonomi khusus, Pemerintah Papua tidak mampu membangun pasar khusus bagi pedagang asli Papua. Dalam pembangunan ekonomi saja sudah gagal, selama 10 tahun berjalan.
Video cuplikan pendek dari Voa Indonesia dan Video Kampanye Amensty International, juga tampil di hari hak asasi manusia. Diana Gebze, yang mewakili Mahasiswa mengatakan ‘’Filep Karma adalah pejuang hak asasi manusia, dia berjuang secara damai, dan tidak menggunakan kekerasan, tapi karena mengangkat bendera Bintang Kejora bagi pemerintah Indonesia adalah unsur makar, dengan ditetapkan peraturan pemerintah no, 77, sehingga Dia dberikan hukuman 15 tahun penjara. Pemerintah Indonesia harus membebaskan Filep Karma, tanpa syarat.’’,ujarnya.

Nonton Video Papuan Voices di Pasar

Beberapa video yang dibuat oleh kelompok aktivis Papua , yang memiliki nama Papuan Voices, juga memeriahkan hari hak asasi manusia di Pasar sementara mama – mama pedagang asli Papua di Jayapura. Video yang tampilkan mulai dari Mama punya cerita, Irronic Survival, Kelapa berbuah Jerigen, dan Surat sang Prada yang dibuat oleh tim Papuan Voices Merauke. Video pendek ini menambah pengetahuan bagi mama – mama, apa yang terjadi di Merauke.

‘’Mama – mama di Merauke juga sedang berjuang untuk dapat tempat yang layak di Merauke, Mahasiswa di Merauke harus mendampingi mama – mama untuk perjuangan pasar khusus juga ada di Merauke, sama halnya apa yang dilakukan di Jayapura.’’, ujar Jeni Madai,salah satu mama – mama penjual sayur di pasar sementara.  

Video pendek lainnya yang dibuat oleh tim Papuan Voices Jayapura juga ditampilkan, Mama Kasmira Pu mau, yang menceritakan tentang perjuangan perempuan di daerah investasi kelapa sawit. ‘’Perempuan disana harus memilih bekerja di perusahaan, yang penting dapat uang untuk makan hari ini, juga untuk anak sekolah, Perempuan akan terus berjuang untuk kesejahteraan hidup rumah tangga’’, ujar mama Yakoba Adii.

Awin Meke, salah video bercerita tentang mama – mama di pasar Jayapura, mulai dari perjuangan mama – mama hingga sekarang. ‘’ video pendek ini, perlu di sebarluaskan lagi di mama – mama pedagang asli Papua di kabupaten lainnya,  sehingga perjuangan mama – mama bisa menjadi dasar perjuangan untuk pasar khusus yang berada di daerah lainnya, bisa juga menjadi masukan bagi pemerintah, bahwa pedagang non – Papua sudah memenuhi hak ekonomi di Papua, sehingga orang asli Papua juga diberikan kesempatan untuk bersaing’’, ujar Gerda Rumbiak, salah satu pembeli.

Diakhir pemutaran video, ditampilkan video surat cinta kepada sang prada, suasana menjadi hening. Penonton mencermati apa yang dilihat. ‘’sedih sekali video pendek ini, diharapkan papa dari Yani bisa melihat anaknya yang sekarang umur 3 tahun’’, ujar Jacklyn, salah satu penonton. 

Hentikan Kekerasan Ekonomi terhadap Perempuan Papua

Hari Hak Asasi Manusia se-dunia, diperingati oleh mama – mama pedagang asli Papua di Pasar Jayapura. Kegiatan ini berupa Pameran Foto, Nonton Video, Musik dan Dansa, terakhir mama – mama mempersembahkan lagu waita di akhir penutupan kegiatan ini. Beberapa foto yang tampil di Pasar terdiri dari foto – foto perjuangan mama – mama, foto – foto korban pelanggaran Ham di Papua, tragedi Biak berdarah 1998, Kasus Wasior 2003, Tragedi Abepura 2000, dan Foto – foto dari Filep Karma, Tahanan Politik Papua yang dihukum 15 tahun Penjara. Untuk beberapa video yang tampil, 5 video yang dibuat oleh kelompok aktivis Papuan Voices yang berada di Jayapura dan Merauke, cuplikan video Voa Indonesia dan Amensty International mengenai kampanye pembebasan tanpa syarat Filep Karma dan Video mengenai kasus Abepura,2000.

‘’Kegiatan ini lebih dikhususkan untuk penyadaran kaum miskin kota, mengenai perjuangan mama – mama dan beberapa foto – foto korban yang tidak pernah selesai dituntut pelaku yang melakukan pelanggaran Ham di Papua’’ ujar Robert Jitmau, ketua koperasi mama – mama pedagang asli Papua(Kommpap).

Kegiatan ini juga di dukung oleh Komunitas Rasta Kribo, Ab’Radio, Kawan – kawan dari Bersatu untuk kebenaran(BUK), Kawan – Kawan dari Lembaga Pengkajian pemberdayaan perempuan dan anak Papua (LP3A), Pt. Harapan anak Papua di Indonesia (Hapin), Kawan – Kawan Desk Perempuan Lembaga studi dan advokasi hak asasi manusia (Elsham) di Papua, Kawan – kawan Gerakan Rakyat Demokratik Papua (Garda Papua), Kawan – kawan Front Nasional Mahasiswa dan Pemuda di Papua (FNMPP).

‘’Nonton film begini, sangat baik, kami juga bisa menambah pengetahuan, karena kami duduk dari pasar mulai pagi sampai malam hari, kami sudah tidak punya waktu lagi untuk menonton atau membaca berita, saya melihat foto – foto korban pelanggaran HAM saja, hanya bisa mengelus dada,  kami hanya tau cari uang untuk bisa makan hari ini, ujar mama Selfiana Wondiwoi, salah satu mama penjual sagu mentah.


Rabu, 07 Desember 2011

MAMA PUNYA CERITA (MAMA'S STORY)

Papuan women market traders in Merauke find it tough to sell their goods. Their trading space is small, dusty and often they have to share with minibus parking. The Papuan women, or often called 'mama-mama', also have work hard to reach the market place as there are only limited public transportation system that pass by their home.


<iframe src='http://www.engagemedia.org/Members/papuanvoicesmerauke/videos/mama_pu_cerita.m4v/embed_view' frameborder='0' width='400' height='300'></iframe>



informasi video
diproduksi olehPapuan Voices [Merauke]
diarahkan olehIke Weller & Yully
diproduksiNov 30, 2011